Ketua Bawaslu Kabupaten Malang Tekankan Pentingnya Membangun Warga Negara Kritis, Cerdas, dan Tangguh di Era Disrupsi Digital
|
Malang — Ketua Bawaslu Kabupaten Malang, Mohammad Wahyudi, S.E., M.Sos., menjadi narasumber dalam kegiatan bertema “Strategi Mempersiapkan Warga Negara Kritis, Cerdas, dan Tangguh”, yang membahas tantangan demokrasi di tengah arus informasi digital yang masif dan cepat berubah yang dilaksanakan oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan UMM pada Selasa 14 Oktober 2025 di aula GKB IV.
Dalam paparannya, Wahyudi menegaskan bahwa salah satu tantangan besar di era disrupsi saat ini adalah banjir informasi, disinformasi, dan menurunnya literasi politik masyarakat. Fenomena ini, menurutnya, berpotensi melemahkan partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi, jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan etika dalam bermedia digital.
“Arus informasi yang begitu deras, apalagi di media sosial, sering kali tidak disertai verifikasi dan kejelasan sumber. Di sinilah pentingnya literasi digital politik agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks dan bisa menjadi pemilih yang rasional dan sadar demokrasi,” ujar Wahyudi.
Mengutip hasil survei MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia) tahun 2017, Wahyudi memaparkan bahwa media sosial, aplikasi komunikasi, dan situs web menjadi saluran tertinggi penyebaran hoaks, baik dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video. Kondisi ini menuntut kolaborasi aktif antara Bawaslu, perguruan tinggi, komunitas, dan media untuk membangun kesadaran publik yang lebih kritis dan tangguh menghadapi disinformasi politik.
Lebih lanjut, Wahyudi menegaskan bahwa Bawaslu Kabupaten Malang terus berkomitmen membina generasi demokratis melalui berbagai program seperti Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP), kampanye anti politik uang dan ujaran kebencian, kolaborasi dengan perguruan tinggi dan komunitas muda, serta penguatan edukasi politik digital melalui podcast, media sosial, dan pelatihan literasi kepemiluan.
“Mahasiswa dan generasi muda adalah aktor perubahan. Gunakan media sosial untuk edukasi, bukan provokasi. Jadilah relawan pengawas partisipatif dan bagian dari gerakan kampus sadar demokrasi,” pesannya kepada peserta kegiatan.
Menutup paparannya, Wahyudi mengingatkan bahwa tantangan demokrasi akan selalu hadir di setiap zaman. Namun, dengan warga negara yang kritis, cerdas, dan tangguh, bangsa Indonesia akan mampu menjaga nilai-nilai demokrasi yang berkeadilan dan berintegritas.
“Demokrasi bukan tujuan akhir, melainkan proses yang terus kita rawat bersama. Mari menjaga demokrasi, bukan hanya di bilik suara, tetapi juga dalam keseharian kita,” tutup Wahyudi.
Penulis : Nabilla Dzikri Azhari